Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaBudayaBupati OKU TimurOKU Timur

Patung Anyar di Martapura Ini Ternyata Bukan Adat Komering

65
×

Patung Anyar di Martapura Ini Ternyata Bukan Adat Komering

Sebarkan artikel ini
Penampilan Patung Yang Disebut Adat Komering di OKU Timur.

OKU Timur – Patung pengantin yang bertempat di simpang empat, Desa Tanjung Kemala, Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur yang pembuatannya menelan biaya hingga miliaran rupiah dan digadang-gadang sebagai simbol keharmonisan itu ternyata mengundang polemik.

 

Example 300x600

Bagaimana tidak, dengan nilai Rp. 1.5 miliar itu, taman beserta patung sepasang pengantin yang diklaim berpakaian adat budaya dari suku komering tersebut dinilai menyesatkan. Kalimat itu terlontar dari seorang penggiat budaya yakni Maison. M. Pd. Rabu, (28/2).

 

Dimana Maison sebagai budayawan mengkritik pemerintah Kabupaten OKU Timur yang dinilai telah salah kaprah dan buta adat.

 

“Patung itu bukan pengantin komering, itu adat palembang jenis Aisan Gede yang sudah dimodifikasi dari mahkota sampai lainnya. Ini jelas menyesatkan generasi emas kita dan masyarakat tentang khazabah budaya suku komering,” Cetusnya.

 

Dijelaskannya lagu, kalau dirinci kaidah, faedah, dan lain sebagainya tentang tugu pengantin dan motif songket baik yang di depan PU maupun di pasar semuanya ngawur dan ngelantur.

 

“Jika ini dibiarkan maka tugu itu mengaburkan peradaban dan mengajarkan tentang sikap plagiat dan rasa ketidak percayaan diri terhadap suku Komering serta pengubahan sejarah suatu kaum,” Ujarnya

 

Bahkan, ada media masa dari Lampung memintanya untuk menulis artikel tentang kesalahan OKU Timur dalam membuat tugu itu.

 

“Tapi aku sampai sekarang menghindar karena aku tidak mau gegabah. Sesuatu yang salah bukan untuk diperkeruh melainkan harus kita stabilkan,” ungkapnya.

 

Ia juga menambahkan, pemerintahan daerah dan lembaga adat OKU Timur sepertinya belum sadar siapa OKU Timur. Semua kebijakan tentang seni warisan dan pariwisata pasti kontroversi.

 

“Termasuk tentang aksara kemaren dan tim pelindung cagar budaya kemaren semua dipaksakan sehingga mendobrak kebenaran hanya karena ingin terlihat ilmiah,” bebernya.

 

Lanjutnya, andai dalam mengembangkan seni budaya serta pariwisata duitnya ada dan jelas dari dinas terkait pasti sudah ia tuntut karena sudah merusak tuntunan leluhur nenek moyang.

 

“Bahasa saya adalah jangan bunuh karakter kami di tanah ibu, akibat pemkab sama lembaga adat OKU Timur belum sadar siapa OKU Timur semua jadi kacau,” keluhnya. (*)